Dijemur di Bili - Bili
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Dijemur di Bili - Bili

Monday, June 8, 2009

 id=



Terpaut 2 bulan kemudian Ulang Tahun SAKMA, setiap Tanggal 12 September adalah agenda rutin, tiap tahun gelar acara kemah diluar.

Hari Jum'at 11 September 1981, jam 08.00 pagi kita menuju Bili - Bili, 3 truk beriringan mengangkut anak SAKMA dan kelengkapannya.



Bili-Bili adalah langganan SAKMA setiap tahunnya untuk acara Kemah, setelah tenda berdiri, bekal dibuka dan santap bersama disetiap tenda masing-masing, terasa nikmat walau hanya berbekal ikan teri dan nasi tanpa sayur.



Melalui speaker pengeras suara, Dewan Ambalan mengumumkan untuk berkemas mandi sunnat karena Sholat Jum'at akan digelar di tengah lapangan yang telah disiapkan. Aku ogah-ogahan, sambil melangkah menuju sungai, membawa ember dan bekas piring makan untuk dicuci. Dalam hati aku berdo'a mudah-mudahan tidak dikerjai lagi sama kakak Kelas untuk maju ke depan mengumandangkan azan.



Sholat Jum'at usai, diberi waktu untuk istirahat, kegiatan baru dilakukan nanti sore sekitar jam 5.30 menjelang azan Magrib, diumumkan saat usai Jumatan.



Tiba-tiba jam 2 siang diumumkan kepada seluruh anak Kelas I ketengah Lapangan, semua kemah diubeg-ubeg sama kakak Kelas mencari anak Kelas I, di tengah lapangan pak Marzuki dengan wajah seram memegang mikrophone sambil bertolak pinggang kayak Gatot Kaca kehilangan sayap.



Kami dikumpulkan dan dijemur tanpa diketahui apa kesalahan kita, sementara seluruh kakak kelas dengan enaknya berdiri tak beraturan berlindung dari sengatan matahari dibawah pohon, seolah memperolokkan kami sebagai tersangka di lapangan pesakitan.



Mery dipanggil kedepan, maju dua langkah, dimarahi habis-habisan sama pak Marzuki,

"kamu keterlaluan ya! mandi di tempat guru sambil intip guru mati-matika, betul?" ucap pak Marzuki sangar.

"tidak pak" jawab Mery sedikit gugup.

"mulai hari ini kamu dipecat dari SAKMA" ucap pak Marzuki lantang



Dengan retorika, pak Marzuki mengacung-acunkan absen yang ada ditangannya dan menunjuk-nunjuk Mery yang ada di depan kami, "adik-adik sekalian, ini adalah contoh yang tidak baik pada teman kalian, melakukan hal yang tidak terpuji, mandi di permandian yang diperuntukkan untuk guru, tapi dengan lancang Mery masuk di tempat yang tidak untuk siswa". Kami semua terdiam, sambil menunggu ada ampunan terhadap kesalahan Mery.



Dengan karakter emosional yang dibangun, pak Marzuki melanjutkan kata-katanya, "Mery, tidak ada ampun untuk kamu, keluar dari SAKMA" ucapnya keras sambil mencoret nama Mery yang tertera di Absen, lalu dilemparkan ke wajah Mery yang terpaku dan tidak menyangka dituduh yang tidak sesuai dengan kebenarannya.



Ada nuangsa solidaritas tercipta untuk membela dalam keterpurukan dan ketertuduhan. Seketika itu aku yang ada dibelakang Mery mengusap hidung yang meleleh dengan menahan keharuan sejak tadi, tiba-tiba Roslely dan Ohy tidak bisa membendung tangis diikuti anak perempuan yang lain. Mery yang mencoba tegar, ketika balik melihat aku dan teman-temanya pada berangkulan, pecahlah tangisnya, dengan raungan keras Mery menangis sejadi-jadinya. Pada saat itu kakak kelas yang menonton secara gratis di balik dedaunan karena takut sengatan matahari pada berlarian ketengah sambil menyanyi,



happy birthday to you

happy birthday to you

happy birthday, happy birthday

happy birthday Meeeee ryyyyyyyy......



diiringi tepuk tangan yang membahana, pak Marzuki menyodorkan kado sambil mencium kening Mery dan berucap selamat Ulang Tahun.

Aku yang melihat kado itu diserahkan, tidak kusia-siakan, "kesempatan tidak datang dua kali", batinku, aku langsung merebut kado itu dari tangan Mery, dan kami semua rebutan yang ternyata kado itu isinya permen.



Ulang tahun SAKMA tidak pernah kulupakan karena hanya terpaut sehari dengan Mery yang lahir pada 11 September sementara SAKMA 12 September.



Tammat





Denpasar Bali

Jum'at 07 Mei 2009



AUS@17

STB: 858/SAKMA/1985





Mohon maaf bilamana ada kesamaan nama dan tempat